Dialog Imajiner dengan Gus Dur tentang LGBT

Ini tulisan lama yang pernah saya tampilkan di laman Facebook. Entah kenapa saya pingin meletakkannya di blog saya yang sudah lama tidak saya kunjungi ini. Daripada copy paste tulisan orang, lebih baik tulisan sendiri saja saya copy paste. Segala kurang dan lebihnya mohon dimaafken.
—————————–
Ramai orang banyak bicara soal LGBT (atau LaGiBeTe, halah..). Ya soal itulah, Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. Saya sengaja kali ini menahan hasrat untuk berkomentar, karena harus melakukan dialog imajiner dulu dengan Sang Guru Bangsa, siapa lagi kalau bukan Gus Dur. Waktu beliau masih hidup, saya memang belum pernah secara langsung ngobrol intens dengan beliau. Boro-boro ngobrol, denger beliau bicara pun agak malas. Mungkin agak ada nuansa “take him for granted” kali ya, pasalnya bapak saya asli Jombang. Selain itu, secara kekeluargaan, ya Gus Dur masih ada hubungan family perkawinan dengan Mbakyu sepupu saya, alias ponakan ayah saya. Tapi setelah beliau wafat, saya malah jauh lebih tertarik dengan ide-ide beliau. Bisa jadi begitu cara Tuhan menyentuh hati saya lewat ajaran Kyai besar ini. Saya mulai mengenalnya lewat tulisan-tulisan beliau, biografi, maupun cerita-cerita dari para Gusdurian.
Itu indahnya ilmu, kalau dituliskan maka ilmu itu akan abadi. Pemikiran yang dituangkan menjadi abadi, walaupun si penulis sudah wafat. Itu yang saya rasakan dari ilmu yang diajarkan Gus Dur, belajar dari tulisan-tulisan beliau. Ternyata dari tahun ’80 an beliau sudah sangat getol nulis gaya “nyleneh” nya. Well, okelah ini saya coba tuliskan hasil diskusi imajiner soal LGBT dengan beliau. Namanya juga imajiner, semoga tidak ada yang tersungging ya.
Jojo: Assalamualikum Gus, piye kabare?
Gus Dur: Walaikumsallam, Jo..tekan endi? Ji’ urip tah..ha ha ha..
Jojo: Alhamdulillah Gus, ji’ dikei umur.
Gus Dur: Ada apa ini kok tiba-tiba muncul?
Jojo: ini loh Gus, aku iki rodo’ sumpek. Orang banyak ngomong soal LGBT di media sosial, koran, dan segala macam. Omongane ya ra jelas, banyak yang menghujat, tidak sedikit yang membela, akeh sing nggowo ayat, sampe bawa-bawa urusan fisik segala..
Gus Dur: sik..sik..LGBT kuwi opo toh? Yo mbo’ dijelasno.. panganan opo meneh?
Jojo: ha ha ha..bukan Gus, iku dudu’ panganan. LGBT itu singkatan (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender).
Gus Dur: oalah, kuwi toh. He he he..
Jojo: kok ngguyu Gus, mengko dianggap melecehkan loh..
Gus Dur: ha ha ha..yo ben, dianggap melecehkan yo silahkan. Aku kan cuma ngguyu, moso yo dilarang. Lucu kan? Moso koyo ngono ae dipermasalahkan.
Jojo: itulah Gus, sekarang semua urusan dipermasalahkan. Apalagi dengan adanya media sosial, berita dan informasi cepat sekali tersebar. Jangankan soal tertawa, soal yang sederhana saja jadi rame Gus. Aku sedikit risau, mangkane arep takon njenengan Gus soal ini. Karena Islam jelas menyatakan di dalam Al Qur’an soal tragedi Sodom umat Nabi Luth. Tapi aku yo paham, dunia iki berubah Gus. Piye aku iki, koyo ndasku diwolak walik..
Gus Dur: ha ha ha, yo opo sampeyan risau? Yo jar no wae. Sampeyan takon soal kebenaran Qur’an dan kisah Nabi Luth, iku wis jelas. Tidak ada kebohongan dalam Qur’an, hanya kebenaran isinya, dan berlaku sepanjang zaman, walaupun mungkin kita saja belum sampai otaknya memahami kebenaran itu. Soal LGBT, Islam jelas hukumnya melarang, begitu juga dengan minuman keras atau makan babi. Tapi apa iya, kita kemudian memaksakan supaya semua orang ndak boleh minum bir dan makan sate babi? Sing gelem mangan yo pangano kono. Begitu juga dengan LGBT, sopo sing arep dadi ngono, ya jar no wae. Tidak ada manusia satupun di dunia ini, bahkan Nabi sekalipun yang bisa memaksa orang berbuat sesuatu yang diluar kehendaknya. Buanyaakk itu ayatnya di Qur’an Jo. Wis diwoco durung Qur’an ne, ojo di lebo’no ning lemari wae.
Jojo: he he he..iyo Gus, tapi gini Gus, bukannya kalau kita membiarkan mereka seperti itu, azabnya akan berdampak pada semua umat. Kita kan punya kewajiban untuk meluruskan mereka?
Gus Dur: sik, ta ngumbe sik..pertanyaanmu jawabane panjang soale. Arep ngombe opo kon?
Jojo: gampil Gus, mengko ta’ jipo dewe…
Gus Dur: ngene loh Jo, tidak ada perintah di kitab untuk memaksakan kehendak. La Ikraha Fiddin, iku wis jelas pol. Artinya tidak ada paksaan dalam urusan agama. Kewajiban kita sebagai bagian dari masyarakat adalah menyampaikan kebenaran, terus mengingatkan dan mendoakan supaya semuanya diberikan hidayah, wis ngono to’. Dalam pandangan Islam, LGBT yo salah, selesai. Tapi Islam tidak bisa memaksakan bahwa seseorang harus lurus atau mbelok. Dadi LGBT, pelacur, maling, koruptor, alim ulama, kyai, atawa sing liyane, iku pilihan manusia, karena nanti manusia jua yang akan dimintai pertanggungan jawab. Orang LGBT mau sholat, sodaqoh, ngaji, yo silahkan. Lah wong pelacur yang sudah bersimbah dosa ae iso mlebu surgo, itu hanya karena dia memberikan minum seekor anjing. Kisah itu harus dipahami maksudnya. Jangan cuma sekedar kulitnya. Urusan hamba dan Tuhannya adalah masalah diri sendiri. Diterima atau tidaknya ibadah seorang hamba Tuhan, itu hanya urusan dan kewengan Tuhan.
Ne’ soal azab sing berdampak ke seluruh umat, iku yo bener. Tapi azab kuwi opo? Sampeyan mesti ngerti pemahaman soal azab dan murka Tuhan. Opo iyo Tsunami ning Aceh kuwi azab Tuhan? Loh kok yo iso? Lah wong ning Aceh kuwi sebutane ae serambi Makkah? Opo iyo warga Aceh LGBT kabeh? Koruptor, maling, penjahat, sampe bajingan tengik ning Jakarta wuakeh pol, kok malah Aceh sing kene’? Kalau ada kompetisi propinsi paling Islami, mesti Aceh sing menang. Ndilalah kok malah kena Tsunami pisan. Azab itu bukan semata soal bencana yang terlihat oleh mata. Bencana paling dahsyat dan pedih adalah kalau hati ini tertutup dari cahaya Nya. Kalau orang banyak berdebat, bergunjing soal LGBT dan akhirnya membuat semua orang risau, ya itu jelaz azab. Kalau kelompok LGBT menjadi tertindas, dan orang lainnya yang bukan LGBT merasa ketakutan, ya kuwi azab. Orang enggan berpikir sehat dan cenderung malah terus menerus mencaci. Semuanya kena, sing lurus kena, sing mbelok opo meneh. Kuwi artine pesan Qur’an, mangkane diwoco.
Jojo: oo..jadi njenengan setuju dengan LGBT Gus?
Gus Dur: gemblung, aku wis ngomong ket mau opo yo gak dirungo’ne tah? Aku sebagai orang Islam, jelas tidak akan setuju dengan LGBT, karena itu prinsip yang harus diyakini dan sumbernya jelas adalah kitab suci. Tapi aku juga ndak iso ngelarang wong liyo dadi LGBT. Iku urusan dewe.. podo wae, aku ndak iso atawa ndak setuju mangan Babi, perintah Allah demikian, selesai perkara. Tapi yo wong liyo sing arep mangan mosok aku larang, yo mangan wae.
Jojo: ha ha ha..maaf Gus, aku ngerti. Tapi takut mengko ono sing menyalah artikan..he he he. Maklum Gus, jaman sekarang banyak jamaah Fisbukiyah yang suka salah tangkap. Apalagi njenengan kan kyai Gus, wajib memberikan petunjuk. Jadi bisa bahaya kalau disalahartikan.
Gus Dur: yo ben, ndak usah diurusi ne’ wong ndak ngerti. Kyai iku isone mengingatkan wae, lagi-lagi, ndak bisa maksa. Cuma Tuhan yang bisa dan punya kewenangan itu. Kalau orang haus ilmu, dan datang ke Kyai, maka dia akan merasa lega. Tapi kalau orang ndak haus, masa iyo dipekso?
Jojo: tapi Gus, apa ndak takut nanti banyak generasi penerus Indonesia. Atau, amit-amit yo..cucu sampeyan misalkan dadi LGBT? Terpengaruh sama para penganut LGBT?
Gus Dur: ha ha ha..anak, cucu, cicit, dan seterusnya itu titipan Allah nduk. Titipan, ya tugas orang tua untuk merawat dengan sebaik-baiknya. Beri mereka cinta, kasih sayang, pendidikan karakter, agama, dan lain sebagainya. Biarkan mereka bertanya, latih mereka menggunakan akalnya. Jangan pernah larang mereka untuk bertanya bahkan soal Tuhan sekalipun. Berkomunikasilah dengan titipanNya itu. Nanti kalau suatu hari mereka tanya soal LGBT, ya jelaskan saja dalil agamanya, sebabnya, konsekuensinya, dan lain sebagainya. Ojo ditutup-tutupi, jujur wae apa adanya. Juga jangan pakai kebencian, pakai dasar pegangan hidupmu. Insya Allah, mereka ngerti dan menjadi manusia yang bertaqwa serta beramal shaleh.
Kalau toh ndilalah jebulane mereka tetap memilih jadi LGBT, yo dikandani wae. Bilang ke mereka, nak kamu sudah aqil baligh. Artinya kamu sudah jadi manusia yang akan bertanggung jawab atas semua pilihan yang kamu ambil. Bapakmu, Mbokmu wis jalanke tugas utama mengajari kamu sejak kecil. Kalo kamu tetep milih jalur yang diluar dari yang diajarkan, ya ra popo aku ndak iso mekso, tapi ingat akhirat ya nduk. Bar iku pasrahke ke Sang EmpuNya jiwa, dongakno ben dikasih rahmat hidayahNya, diberikan keselamatan dunia akherat. Lah wong anak keturunanmu iku bukan milik sampeyan, semua milik Allah. Ojo nesu, risau, galau, wiss..ra penak blas.
Jojo: Alhamdulilah, adem tentrem atiku Gus ngrungokne tausyiah njenengan. Aku rodo bingung soale, Ulil Abshar sing aku wis pikir cerdas, belakangan soal isu LGBT ini dadi rodo sempel Gus. De’e mbengo-mbengo ning sosial media, ngomong ra jelas blas.
Gus Dur: ha ha ha..Ulil Abshar sing mantune Gus Mus kuwi ta? De’e kuwi kan ji’ cah wingi sore Jo. Ngajine durung tamat, khatam mungkin sudah. Tapi kalau masih suka marah dan emosi, ya itu namanya amatir alias ngajinya belum tamat sampai ke akar maknanya. Wis, jarno wae..ndak usah dimasukin hati. Didoakan saja, yen de’e dapet hidayah Allah, dapat ilmu lebih banyak, dan dapat mengendalikan emosi.
Jojo: iyo Gus, tapi yo aku mbo’ di dongakne pisan toh yo..
Gus Dur: cah gemblung, aku iki wis mate’ dadi koncone cacing. Moso iyo iso dongakno sampeyan. Ket mau sampeyan iki yo ngelamun ngomong dewean wae..Ha ha ha.. doa sendiri sana mumpung kamu masih diberikan kesempatan. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane..
Jojo: (menitikan air mata)..iyo Gus, aku woco Al Fatihah buat njenengan Gus. Suwun yo Gus, wis mampir dalam hidupku walaupun hanya lewat tulisan.
Advertisements

Susahnya Jadi Muslim

Hari ini, sekelompok orang akan turun ke jalan-jalan di Jakarta, membawa pesan “Membela Islam”. Bagi orang yang masih mau berpikir dan menggunakan akalnya akan cepat sadar bahwa peristiwa ini didorong agenda politik dengan mengatasnamakan agama. Sebuah peristiwa yang terus berulang di setiap peradaban. Sejarah mencatat bahwa agama dan keyakinan menjadi kendaraan paling ampuh untuk membawa persepsi manusia ke arah manapun yang diinginkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Pada era Judaisme menuju Kristenitas isu ini juga dipakai, Tuhan dijadikan tameng untuk kepentingan segelintir orang. Perang suci pun digelar dengan alasan membela Tuhan. Padahal, sekarang kita tahu bahwa motifnya adalah perebutan dan pemenangan atas ego dan kepentingan manusia. Tidak ada tali menalinya sama sekali dengan Tuhan, karena jelas bahwa Tuhan tidak butuh apapun yang manusia punya. Perseteruan antara Judaisme dengan Kristenitas mungkin telah terjadi ribuan tahun lalu, dan akhirnya bisa mereda juga dengan sendirinya. Tapi kejadian dan modus mengatasnamakan “Membela Tuhan” tetap laris manis hingga detik ini. Seakan menunjukan manusia yang ogah berevolusi dan cenderung memelihara kedunguan.
Neurosains telah memberikan fakta konkrit bahwa keyakinan atau “faith” bukan perkara intelektualitas kognitif semata. Seorang bergelar Profesor sekalipun bisa saja menjadi terlihat “cetek” ketika berhadapan dengan urusan keyakinan. Ini urusan rasa yang tidak mungkin dijadikan urusan logika semata. Faith menjadi urusan yang perlu digabungkan antara hati dan rasio sehingga bisa menjadi bermakna utuh. Einstein pernah mengatakan, kurang lebih “..ilmu tanpa keyakinan akan Tuhan adalah kesombongan, dan keyakinan akan Tuhan tanpa ilmu adalah kedunguan..”. Jadi jelas bahwa dalam ranah Faith, diperlukan semua kemampuan manusia untuk berpikir dan sekaligus mengasah perasaan di dalam hatinya.
Disini kemudian dapat dirasakan bahwa menjadi Muslim sangatlah sulit. Kenapa? karena untuk menjadi Muslim, ada misi utama yang dikedepankan sejak awal. Bahwa setiap Muslim wajib menjadi “Khalifah” (wakil Tuhan) di muka bumi dan menebarkan “Rahmatan Lil-Alamin” (berkah ke semesta alam) dalam setiap tindak tanduknya. Sungguh itu sebuah misi umum yang sangat susah. Mungkin dalam keyakinan agama lain, misi ini hanya disematkan pada pemuka agama saja, tapi dalam Islam ini diwajibkan bagi setiap pemeluknya tanpa terkecuali. Bahkan dalam satu kisah yang sangat terkenal di dunia Islam, dulu misi ini pernah ditawarkan Tuhan kepada gunung, laut, dan isi alam raya ini. Tidak ada satupun yang menyanggupi, hanya manusia yang pada akhirnya “tunjuk tangan”. Berani sekali ya kita ini?
Saya pada akhirnya berkeyakinan bahwa, saya tidak berani disematkan gelar “Muslim”. Saya mohon ampun kepada Gusti Allah, lebih baik saya mengatakan bahwa “saya hanyalah manusia yang menjalankan cara Islam”. Atau bahasa lainnya “practicing Islam“, mempraktekan cara Islam. Kenapa? karena sulit untuk menjadi Muslim yang sejati. Saya tidak berani berjanji atas sesuatu yang saya belum tau bisa memenuhinya atau tidak. Tapi saya bisa berjanji untuk berupaya melakukan yang terbaik. Jadi daripada bergembar gembor bahwa saya adalah Muslim atau bahkan sekedar Mukmin (umat beriman), lebih baik mengatakan saya akan berupaya dengan mempraktekan cara-cara Islam. Jadi kalaupun pada akhirnya Tuhan meminta pertanggung jawaban, saya bisa katakan “..Ya Allah, saya hanya berjanji untuk berupaya sekuat tenaga..kalau belumlah cukup, ampuni hambamu yang nista ini. Kalaupun tidak Kau ampuni, apalah dayaku..”
Kesulitan menjadi Muslim pada zaman ini bukan disebabkan oleh represi penguasa (seperti zaman Nabi di Mekkah dulu). Tapi malah disebabkan oleh orang-orang yang mengaku Islam. Semua melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dikedepankan oleh Islam itu sendiri. Diperintahkan damai tapi malah hobby perang, diperintahkan memafkan tapi malah paling gemar balas dendam, diharuskan ikhlash malah bakar sana sini. Bisa terbayang kan bagaimana tantangan sulitnya jadi seorang muslim. Akan sering ditanya “heh, itu agama mu kok begitu sih penganutnya? katanya damai kok gitu?..”. Akhirnya beragama cuma untuk berdebat dan berargumentasi bahwa Islam itu begini dan begitu. Tapi jarang ada aktualisasi, akhirnya Islam yang katanya ramah hanya jadi teori. Sebaliknya, aktualisasi sehari-hari hanya terlihat Islam yang Marah.
Setiap Manusia Adalah Cermin bagi Manusia Lainnya
 
Ini bukan sekadar pepatah sembarangan, tapi sebuah hadits yang sangat terkenal dan dirawikan oleh HR. Dawud. Saat pertama saya mendengar kalimat itu, agak bingung. Apa maksudnya, karena terasa sedemikian filosofis dan akibat dangkalnya ilmu saya jadi makin bingung. Tapi ternyata setelah dipikirkan, sederhana saja. Apa yang kita lihat saat kita bercermin? sebuah bayangan dari diri kita, ketika kita menggunakan baju putih dan tersenyum, bayangan di cermin pun akan terlihat sama persis. Demikian juga bagaimana kita melihat orang lain dan sebaliknya. Kok bisa? bukankah setiap orang punya sifatnya masing-masing? Ternyata sifat dari setiap orang yang kita temui, merefleksikan sikap kita juga terhadap orang lain.
Coba pikirkan saat kita dimarahi oleh bos di kantor misalnya, hati rasanya dongkol tidak karuan. Tapi coba kita mau Tuma’ninah sebentar saja, pikirkan kembali. Kita pasti pernah melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan si bos tadi kepada kita. Bisa jadi kita lakukan secara sengaja, ataupun tidak sengaja. Ada banyak kejadian lain yang kalau kita mau pikirkan, maka bisa mulai mudah kita memahami maksud hadits tadi.
Jadi, kalau umat Islam marah dengan banyak hal yang terjadi seakan-akan memojokan Islam secara bertubi-tubi, ini adalah cerminan saja. Kalau ada yang merasa Al-Qur’an di nistakan, pernahkah berpikir bahwa hingga saat ini sangat amat banyak Masjid yang mengisi Khotbahnya dengan menghina agama / keyakinan lain? Ini hanya cerminan, bayangan dari apa yang dilakukan. Kalau kita bercermin lalu bayangan di cermin tersebut buruk rupa, apakah layak kita marah kepada cerminnya? Marah lah kepada diri sendiri, sudahkah kita mampu meng aktualisasikan Rahmatan Lil Alamin yang menjadi tugas utama dari menjadi Islam?

Yakin sudah tidak Kafir?

Sekali lagi kita masuk ke dalam suasana mendekati pemilu. Suasana dimana psikologis  masyarakat mulai berbau rasis dan fasist. Kata “kafir” menjadi keyword utamanya, dan kata “Cina” menjadi pendampingnya. Kondisi ini marak sejak Pilkada DKI yang lalu, dilanjutkan dengan Pilpres dan sekarang kembali kita temui saat menjelang Pilkada DKI (lagi). Saya enggan membahasnya dari sisi politik, karena bisa jadi isu ini memang dihembuskan oleh sang kandidat itu sendiri, tujuannya tidak lain adalah untuk menarik simpati. Dalam strategi politik, pada kondisi tertentu, menjatuhkan diri sendiri malah secara tidak langsung bisa menaikan elektabilitas. Istilahnya “playing victim”, hasilnya adalah banjir simpati yang luar biasa. Makanya, saya enggan membahasnya dalam kerangka politik. Saya mau membahasnya dalam kerangka sederhana saja, yaitu soal “arti”. Sebagai catatan saja, saya tidak akan memilih Ahok dalam Pilgub DKI. Bukan karena dia Cina atau Non Muslim, tapi karena bagi saya dia sudah kebanyakan pendukung. He..he..he..

Kita sudah sangat paham bahwa kata “kafir” (di Indonesia) selalu di padupadankan dengan “non-muslim”. Sedangkan kata “Cina” hampir selalu di padukan dengan non muslim, dan kalaupun muslim pasti mualaf yang derajatnya bisa jadi dianggap kurang afdhol. Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita coba bahas dari sisi itu. Walaupun sudah banyak penjelasan soal ini, tidak apa juga kita bahas lagi. Ada salah satu referensi yang sangat menarik yang ada di akhir tulisan ini. Referensi yang mengajari saya banyak hal. Saya sarankan disimak juga tulisan itu, supaya kumplit pemahamannya.
Kafir, apa sebetulnya artinya? Apakah hanya dikenal dalam dunia Islam? Akar katanya adalah kaffara atau berarti “tertutup”, diserap dalam bahasa Inggris menjadi “cover”. Apanya yang tertutup? Jelas bukan jasmaninya, dan definisi ini bisa kita simak dalam Al Qur’an

Q.S 14:100 “dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas”

Q.S 14:101 “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”
Sebagai informasi, ayat ini bagian dari Surah yang bercerita tentang Asbabul Kahf, dan juga ada cerita mengenai hari Akhir serta pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir (ayat 66). Inti ceritanya adalah tentang keteguhan Iman dan tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT. Ayat 100 dan 101 tadi adalah sebuah definisi dari istilah “Kafir”. Yaitu orang yang mata (hati) nya tertutup dan pendengaran (hati) nya tertutup. Bukan mata maupun telinga fisik, karena tidak adil kalau demikian. Apakah iya orang tuna netra dan tuna rungu masuk ke dalam bagian orang kafir? Ya pastinya tidak demikian. Bagi yang beragama Islam, suka tidak suka definisi itu harus anda percayai. Kalau tidak percaya definisi itu, berarti mungkin anda salah satu dari orang yang perlu digadai otaknya di pegadaian. Bagi yang Non Muslim, maka definisi itu akan membuat anda menjadi lebih tenang. Karena itu berarti anda tidak otomatis masuk ke dalam golongan kafir. Dari definisi itu pula, kita bisa memahami bahwa “kafir” dalam arti dan maksud yang sebenarnya tidak hanya diperuntukan bagi Muslim vs Non Muslim. Dari periode sejarah, kita bisa mengetahui bahwa Asbabul Kahf yang diceritakan dalam ayat itu merupakan kaum yang ada jauh sebelum paham yang namanya “Islam” itu muncul. Dalam periode sekarang, di Barat pemisahannya menjadi “Believers Vs Non Believers” atau “kaum beriman Vs kaum tidak beriman”. Ber-Islam saja belum tentu beriman, dan ini penting untuk meluruskan pemahaman kita. Coba kita simak ayat ini

Q.S 49:14 “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”




Kaget? Kok ada ayat kaya gini? Ya makanya, Al Qur’an jangan cuma di copy paste aja, sepotong-sepotong pula, dan tanpa penjelasan apapun. Harus utuh bacanya, lihat sejarahnya, konteksnya, dan paling penting pakai hati, jangan pakai otot dan syahwat (keinginan diri/ ego/ hawa nafsu). Entah kurang jelas apalagi ayat ini kalau mau dipahami dengan jernih, bahwa manusia tidak berhak untuk memberikan cap “kafir” seenaknya. Bisa jadi sebagian dari yang membaca tulisan ini akan bilang “..gw gak kaget kok, udah tau ayat itu..kan gw udah khatam Al Qur’an sejak kecil. Tapi ayat itu bukan gitu memahaminya, itu untuk orang Arab Badui saja..“. Sebagai latar belakang, Surah Al Hujurat (49) tersebut termasuk Surah yang turun di Madina setelah Rasul Hijrah. Artinya, ada muatan politis di sana, karena memang turun saat ada perselisihan diantara sahabat. Bisa jadi ini tanda bahwa Al Qur’an sangat relevan untuk kondisi hari ini. Dimana sesama saudara saja berdebat terus menerus tanpa kejelasan, urusannya pun tidak jauh dari penafsiran suatu urusan duniawi. Lebih lengkapnya, silahkan baca sendiri biar afdhol Surahnya. Jadi singkatnya, kalau dianggap bahwa Ayat dan Surah itu hanya ditujukan untuk orang Arab Badui saja, berarti Al Qur’an secara tidak langsung dianggap hanya sekedar buku sejarah. Atau anda pilih-pilih, ada ayat yang berlaku sampai sekarang tapi ada ayat yang untuk masa Muhammad SAW saja. Gombal..baca pesan Tuhan kok seenak jidat. 

Mungkin sebagian dari kita akan tidak terima dan berkata, “..ah jo, bukan gitu dong memahaminya..“. Jangan protes ke saya, silahkan protes langsung sama SumberNya. Bisa jadi juga di kepala kita kemudian sekarang sedikit “konslet”, nyaris tidak percaya bahwa sedemikian aktual dan implementatif nya ayat-ayat tersebut. Bisa jadi kemudian kita bergumam di dalam hati 

“..ini tidak sesuai sama apa yang pernah saya dapat, tapi kok rasa-rasanya benar juga ya?”, atau 

“..ini Jojo liberal banget sih, tapi ada benarnya juga sih..?”, atau paling mentok 

“..asli Jojo nih ngaco, tapi itu ayat dari kitab, ahh..salah nih orang..”. 

Kalau benar dugaan saya, berarti arahnya sudah pas. Pertanyaan, kegamangan atau kemarahan itu adalah modal bagi kita untuk menjadi pilar utama keimanan yang kokoh. Semakin kita gali, kita sadari kelemahan kita, kita refleksikan sisi kemanusiaan kita yang serba lemah ini, semakin terasa kehadiran Allah di tengah kehidupan kita. Salah satu buku yang berjasa dalam membuat saya gemar dengan hal-hal berbau spiritualitas adalah karya Jefrey Langs, seorang Muallaf dari AS. Judul bukunya “even angel ask”. Fenomenal sekali, karena banyak pertanyaan kritis yang kemudian dia gali. Bukan untuk mematahkan dalil, tapi untuk meyakinkan dirinya sendiri dalam arah keimanan ini. Jadi jangan khawatir kalau di kepala jadi sedikit konslet, karena itu berarti kita masih manusia yang sadar akan titik kelemahan kita. 

Ok, kembali ke urusan kafir tadi. Jadi semoga sekarang cukup jelas ya, apa arti dari kafir dan kata itu bukan diperuntukan bagi non muslim saja. Karena, sudah digunakan jauh sebelum Islam diperkenalkan oleh Nabi Allah, Muhammad SAW. Sekarang mari kita bahas soal “Cina”. Pernah tau kah anda bahwa tanpa jasa dari Bangsa Cina, maka Islam di Indonesia mungkin tidak akan berkembang seperti sekarang. Jasa dari Bangsa Cina terhadap pengenalan Islam di Nusantara sangat besar dan sejarah pun mencatatnya jelas. Salah satu teori sejarah yang menguatkan ini di perkenalkan melalui buku karya Prof. Dr Slamet Muljana, “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”. Gus Dur juga beberapa kali menulis di dalam kolomnya terkait dengan sejarah ini. Tentu sejarah ini akan penuh dengan kontroversi, namanya juga Indonesia. Sejarah selalu dikaburkan, tapi Allah Maha Besar, kebenaran akan selalu terkuak. Pengayaan khazanah sejarah melalui teori-teori tersebut membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam terkait dengan budaya Nusantara. Dimana pada akhirnya, suka atau tidak suka, fakta hingga hari ini membuktikan bahwa Bangsa Cina memainkan peranan penting dalam perkembangan Islam di Nusantara. Mulai dari baju koko hingga baju adat Betawi yang sarat unsur budaya Cina. Jadi kalau sekarang masyarakat ramai mempersoalkan Cina dan Kafir, apakah sudah lengkap pemahamannya? Kalau belum, lebih elok kalau tidak perlu di konotasikan negatif. Itu sama saja seperti orang bilang Kopi itu enak, padahal seumur hidupnya belum pernah minum kopi. Jadi sekedar ikut-ikutan saja. 

Ya, semoga setelah sekarang kita mulai tahu, kita bisa lebih paham duduk perkaranya. Dan semoga tidak perlu digadai otaknya di pegadaian ya..he..he..he..

Walahuallam Bisawwab.

NB: siapa tau ada yang mau baca referensi tambahan dari blog yang sangat bagus ini https://suluk.wordpress.com/2006/02/17/makna-kafir-dan-syuhada-kafir-bukanlah-berarti-orang-yang-tidak-beragama-islam/ 

8th January 2015

Okay, you probably didn’t have any idea why in the world i post something like this. A screenshot of my phone home page, nothing special and useless. Yes..but wait untill you hear the rest of the story.

This year is being open to me with many issues. I prefer to use the terms “issue”, because that is what it is. Is not a problem nor a challange, is just an issue that caught my mind. In the 8th day of January 2015, i got this stuck and empty feeling. Simply, i can put it out as a less grateful attitude. Lucky i’m not using this situation as my reason to do bad things like drugs or else. I choose the other way, i turn to my self, contemplating and having an intense discussion with the “Greatest Substance”. Some of you probably say..”God..nonsense..”, it’s okay..i’m a believers, and that is who i am.

Well anyway, 5 minute ago i open my facebook page. Among other things in the timeline, my eyes caught in one video about how we should be grateful. Yes, it’s a cliche video that you can easily found in the internet nowadays. But it means something to me, especially in my situation. While i’m watching untill it end, the video stuck. Leaving me with those words in the screen. Well i tought it’s just a bug on facebook app. I press the home button which usually fix it, but then it got me this. A home screen with that words stuck as a background.

It just wont go away. Until i smile at my self and realizing..”this is a message, to me..”. You might say it’s a coincidence, but no..i don’t believe in coincidence. Is just like The Greater Substance shouting by saying

“..yes, you have an issue..but it shouldn’t be a reason to not being grateful. Stop it, wake up..and life in the present..face it..suck it up..and move on..”

Well, it got me there. I realise it (once again) that what is the most important in this life is “not to think about how much moment we lost..but to think that this life it self as a moment that we need to perform at our best..”

Alhamdulilah, this really helps a lot.

View on Path

Memahami “Kemalingan Hutan”..

image

Tentang Nomenklatur KemenLH dengan KemenHut lagi rame sekarang (diplesetkan jadi Kemalingan Hutan). Untuk memahami ini, kita harus juga paham dengan cara pikir Jokowi. Sebagai warga Jakarta, gw bisa paham. Semenjak mengikuti perkembangan pembangunan 6 ruas tol, gw belajar banyak banget dengan gaya Mas Jokowi ini. Karena gaya Jokowi memimpin bukan gaya biasa. Dia orang Jawa..dan itu penting untuk dipahami. Gw juga akhirnya belajar dari banyak wong Jowo yang lebih senior untuk memahami gaya Mas Jokowi ini. Para aktifis lingkungan juga harus paham, daripada hanya “ngomel dan menolak”. Ada 3 hal yang gw pelajari dengan gaya Jokowi yang agak berbeda dengan SBY. Mungkin agak mirip dengan Gusdur tapi karena beda “Maqom” jadi terlihat beda banget.

1. Jokowi akan memilih jalan memutar untuk mencapai sasaran.

Ini penting untuk dipahami, coba lihat sikap diam Jokowi dalam menyikapi penolakan 6 ruas tol. Gw mencatat, setelah pertemuan publik terakhir dengan para pakar kota. Gaung pembangunan 6 ruas tol berhenti. Seakan “didiamkan” menggantung oleh Jokowi. Kalau menurut salah satu senior Jawa yang gw kenal, ini artinya dia menolak tapi enggan bilang secara terang2an. Karena dia tau konsekuensi hukumnya kalau langsung tolak dan batalkan. Jadi diamnya adalah penolakan.

Nah, sekarang terjadi lagi dalam urusan penggabungan kementrian. Dia tau kalau Kemenhut perlu dipreteli kewenangannya, KLH perlu diperkuat, SDA berbasis lahan perlu dibenahi, dan faktanya 70% penguasaan SDA berbasis lahan ada di Kemhut. Daripada bubarkan Kemhut seperti tuntutan AMAN yang menurut gw agak absurd. Dia kemudian memutar arahnya, dia gabungkan “si kuat” dengan “si lemah”. Dengan ini dia mulai bisa menyetir arah perbaikan dengan menghilangkan ego sektoral yg paling besar yaitu sektor kehutanan. Pertanyaan sebagian aktivis adalah “..loh gimana dengan ESDM, Perkebunan, dll dst..kan SDA bukan hanya kehutanan..?”

Ingat, bahwa semua sektor itu sebagian besar ada di kawasan hutan. Tambang harus punya “pinjam pakai”, kebun harus punya “pelepasan” dan semua bermuara pada Kemhut. Jadi bukan tidak terpikir oleh Mas Jokowi, tapi dia berputar menuju arah sasaran yang sebenarnya. Idealnya memang menyatukan dalam Kementrian SDA. Tapi ada baiknya kita juga belajar birokrasi di pemerintahan, kalau pemimpin “Maqom” nya belum setinggi Gusdur, tidak akan bisa dobrak birokrasi hajar bleh gitu. Menyatukan kementrian dalam Kemen SDA artinya harus merger berbagai kementrian sektoral lainnya, dan pertarungan birokrasinya berat. Baru Gusdur dan Pak Harto lah menurut gw yang “Maqom” nya bisa melakukan  itu semua, Jokowi nanti dulu..masih harus berproses. Jalan berputar ini sama ketika Gusdur mengusulkan membuka jalur diplomatik dengan Israel. Ini dilakukan dengan argumentasi “bagaimana kita mau turut intervensi mendamaikan kalau kita tidak punya hubungan diplomatik..?”

2. Jokowi akan menggunakan gaya mengalah untuk menang

Ini gaya yang akan dia pakai sampai kapanpun. Banyak contohnya, slogan “aku rapopo” sampai hinaan berbau SARA selalu tidak digubris. Perseteruan sengit Pilpres selama berbulan bulan juga menunjukan hal ini. Buanyak pendukung Prabowo waktu itu yang menganggap Jokowi kalah pamor dan lain sebagainya. Tapi pada titik krusial terakhir, dia menggunakan langkah kemenangannya. Cukup menemui Prabowo, tertawa-tawa selesai urusan. Kalau menurut kawan saya, tidak relevan lagi sekarang kalau masih ada pendukung Prabowo yang sengit.

Gaya mengalah untuk menang ini Jawa banget. Semua “haters” akan dibuat jumawa dulu, tapi tanpa disadari sebetulnya mereka adalah pihak yang terkena pukulan telak. Banyak lagi contoh gaya mengalah untuk menang yang Jokowi terapkan, mulai dari jadi Walikota hingga sekarang. Ini juga yang terlihat dalam pemilihan menggabungkan KemenLH dengan Kemenhut. Buat sebagian orang penggabungan ini adalah langkah “bodoh” dan menunjukan kekalahan. Tapi coba pikir lagi, bahwa ini adalah strategi untuk melakukan pemretelan kekuatan kemhut yang sangat besar dan meningkatkan kekuatan KLH yang sangat kecil.

3. Dia akan memegang teguh prinsip Jawa “ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh”

Prinsip ini dikenalkan bapak gw pada saat gw SMA dulu, dan terngiang sampai saat ini. Buat sebagian orang Jawa lainnya, prinsip ini pasti juga familiar karena merupakan falsafah dasar, termasuk Jokowi. Ada baiknya kita semua juga pegang falsafah ini, sehingga kita tidak jadi orang yang reaksioner, oportunis dan tidak punya sikap. Ketika melihat suatu kejadian, ada baiknya kita diam sejenak dan mulai berpikir sebelum bereaksi. “Ojo kagetan” merupakan pesan untuk jangan cepat / mudah kaget atas berbagai hal yang terjadi di muka bumi ini. Karena semuanya ada dalam kendali Sang Maha Esa. Biasa saja, jadikan moment kagetnya sebagai moment berpikir. Itu yang Jokowi lakukan, siapapun tidak akan menyangka kalau ternyata seorang Walikota Solo dengan dukungan 2 partai bisa merebut kursi DKI satu, dan sekarang merebut kursi Presiden RI. Termasuk Mas Jokowi sendiri pasti juga tidak menyangka, tapi dia tidak kemudian sujud syukur, atau melakulan gaya lainnya yang biasanya banyak pejabat kita lakukan.

Dia juga berpegang pada prinsip “ojo gumunan”, atau mudah takjub akan sesuatu yang ada di dunia ini. Masih terkait dengan poin sebelumnya, bahwa semua lembali kepada kesadaran bahwa ke takjuban hanya pantas disematkan kepada Sang Maha Esa, bukan kepada materi ciptaan Nya. Dengan tidak mudah takjub, orang menjadi lebih bijak dalam bersikap dan mengembalikan semua kepada Sang Pencipta. Sikap ini dapat kita lihat ketika Jokowi misalnya ketika dia menjawab pertanyaan dengan statement “..ya biasa saja..he he he..”. Artinya dia paham bahwa yang paling penting menjadi manusia adalah menjadi berguna buat orang lain, dan itu bukan sesuatu yang spesial.

“Ojo dumeh” bisa lita lihat dari sikap sederhana Jokowi sekeluarga. Dan ini sepertinya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut ya.

Dalam konteks penggabungan kementrian LH dan Hutan, ketiga falsafah dasar Jawa ini juga berkaitan. Tidak perlu kita jadi reaksioner dan jadi seperti kebakaran jenggot. Diam dan berpikirlah, jangan terlalu banyak komentar dulu..tenang dan bernapaslah, jangan panik. Lebih baik pikirkan strategi perbaikannya seperti apa nanti ke depan, apa agenda yang Masyarakat Sipil Harus bawa kepada menteri yang baru, apa langkah konkritnya untuk kerja segera, dll dst. Karena Jokowi mengusulkannya juga dengan berpegang pada falsafah tersebut.

Akhirnya
Gw lebih memilih untuk berpikir seperti ini sekarang, daripada harus terlalu cepat memberikan reaksi. Karena pada dasarnya semua pilihan pasti punya landasan dan alasan kuat. Tidak ada tang mutlak benar atau mutlak salah, karena ke mutlak an hanya milik Sang Maha Esa.